:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5125344/original/099238500_1738928266-20250207-IHSG-ANG_7.jpg?w=1200&resize=1200,0&ssl=1)
Liputan6.com, Jakarta Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Mahendra Siregar, menyampaikan bahwa OJK telah mengambil langkah strategis dalam merespons dinamika pasar modal yang mengalami tekanan akibat perkembangan global.
Salah satu langkah yang diambil adalah melakukan penyesuaian terhadap batasan trading halt dan auto-rejection bawah pada perdagangan saham di Bursa Efek Indonesia (BEI).
“Mempertimbangkan perkembangan bursa saham global dan regional yang mengalami tekanan pasca penguan tarif resiprokal serta mengantisipasi kondisi pasar yang berfluktuasi secara signifikan,” kata Mahendra dalam konferensi pers Hasil Rapat Dewan Komisioner Bulanan, secara virtual, Jumat (11/4/2025).
Penyesuaian ini diberlakukan mulai tanggal 7 April 2025, sebagai respons atas meningkatnya tekanan di bursa saham global dan regional. Tekanan ini terjadi setelah Amerika Serikat memberlakukan kebijakan tarif resiprokal yang berdampak terhadap ketidakpastian di pasar keuangan dunia.
“Maka pada tanggal 7 April 2025, OJK melalui bursa efek menempuh kebijakan berupa penyesuaian batasan trading hold dalam hal IHSG mengalami pelemahan yang signifikan pada satu hari bursa yang sama, dan penyesuaian batasan auto-rejection bawah saham,” ujarnya.
Menurutnya, ketidakpastian tersebut memicu fluktuasi yang signifikan pada berbagai indeks saham, termasuk Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Indonesia.
Lebih lanjut, Mahendra menjelaskan bahwa OJK perlu mengambil langkah antisipatif untuk mengurangi risiko volatilitas yang berlebihan di pasar saham domestik.
Oleh karena itu, OJK senantiasa memonitor perkembangan pasar keuangan dan diharapkan dengan berbagai kebijakan yang diambil dan koordinasi yang erat dengan para stakeholders dapat dilakukan dengan baik agar mampu memitigasi dampak peningkatan risiko ketidakpastian global dari pengenaan tarif resiprokal oleh Amerika Serikat.